2.Rangkaian Simulasi dan Prinsip Kerja[Kembali]
KONTROL KUALITAS UDARA PADA INDUSTRI MANUFAKTUR PABRIK SEMEN
SENSOR SUHU
Aplikasi Sensor Suhu
Prinsip Kerja Sensor LM35:
Grafik
Penjelasan :
1. Thermal Resistance Junction to Air
- Sumbu X: Kecepatan aliran udara (Air Velocity, ft/min)
- Sumbu Y: Resistansi termal (°C/W)
- Penjelasan:
- Grafik ini menunjukkan hubungan antara kecepatan aliran udara dan resistansi termal dari sambungan sensor ke udara.
- Semakin tinggi kecepatan aliran udara, semakin rendah resistansi termal.
- Hal ini berarti sensor lebih efektif dalam membuang panas pada aliran udara yang lebih cepat.
2. Thermal Time Constant
- Sumbu X: Kecepatan aliran udara (Air Velocity, ft/min)
- Sumbu Y: Konstanta waktu termal (Time Constant, detik)
- Penjelasan:
- Grafik ini menunjukkan waktu yang dibutuhkan sensor untuk merespons perubahan suhu terhadap aliran udara.
- Semakin tinggi kecepatan aliran udara, semakin cepat sensor merespons perubahan suhu (konstanta waktu lebih rendah).
3. Thermal Response in Still Air
- Sumbu X: Waktu (menit)
- Sumbu Y: Persentase dari nilai akhir (%)
- Penjelasan:
- Grafik ini menunjukkan respons sensor LM35 dalam kondisi udara diam terhadap perubahan suhu.
- Respons awal lambat tetapi kemudian stabil seiring waktu, mendekati 100% dari nilai suhu aktual.
4. Thermal Response in Stirred Oil Bath
- Sumbu X: Waktu (detik)
- Sumbu Y: Persentase dari nilai akhir (%)
- Penjelasan:
- Grafik ini menunjukkan respon sensor dalam lingkungan minyak yang diaduk (lebih konduktif dibanding udara).
- Sensor merespons lebih cepat dalam minyak dibandingkan udara, mendekati nilai akhir dalam waktu singkat.
5. Minimum Supply Voltage vs. Temperature
- Sumbu X: Suhu (°C)
- Sumbu Y: Tegangan suplai minimum (V)
- Penjelasan:
- Grafik ini menunjukkan tegangan suplai minimum yang diperlukan sensor pada berbagai suhu operasi.
- Pada suhu yang sangat rendah atau sangat tinggi, tegangan suplai minimum yang dibutuhkan sedikit meningkat.
6. Quiescent Current vs. Temperature (Figure 1)
- Sumbu X: Suhu (°C)
- Sumbu Y: Arus diam (µA)
- Penjelasan:
- Grafik ini menunjukkan arus diam (quiescent current) sensor terhadap perubahan suhu.
- Arus meningkat seiring dengan kenaikan suhu.
7. Quiescent Current vs. Temperature (Figure 2)
- Sumbu X: Suhu (°C)
- Sumbu Y: Arus diam (µA)
- Penjelasan:
- Mirip dengan grafik sebelumnya, tetapi mungkin menggunakan konfigurasi sirkuit yang berbeda.
- Arus meningkat secara linear seiring dengan peningkatan suhu.
8. Accuracy vs. Temperature (Guaranteed)
- Sumbu X: Suhu (°C)
- Sumbu Y: Kesalahan suhu (°C)
- Penjelasan:
- Grafik ini menunjukkan akurasi sensor LM35 pada rentang suhu yang berbeda.
- Terdapat sedikit penyimpangan pada suhu ekstrem (sangat rendah atau sangat tinggi).
- Sensor LM35 memiliki performa terbaik dalam rentang suhu tertentu.
9. Accuracy vs. Temperature (Guaranteed, Variasi Sensor)
- Sumbu X: Suhu (°C)
- Sumbu Y: Kesalahan suhu (°C)
- Penjelasan:
- Grafik ini membandingkan akurasi beberapa varian sensor LM35 (LM35, LM35A, LM35C, dll.).
- Setiap varian memiliki tingkat akurasi yang sedikit berbeda pada suhu ekstrem.
M35 (Temperature Sensor)
- Pasif/Aktif: Aktif (mengubah suhu menjadi tegangan).
- Analog/Digital: Analog (output berupa tegangan analog).
- Fisika/Kimia/Biologi: Fisika (mengukur sifat fisik berupa suhu).
- Thermal/Mekanis/Optik: Thermal (mengukur suhu).
SENSOR GAS
Aplikasi Sensor Gas Mq-2 dan Mq-7
Prinsip Kerja Sensor Gas Mq-2 dan Mq-7:
Grafik Sensor:
Penjelasan Bagian-Bagian Grafik
Pemanasan Awal (Rising Phase)
- Rentang Waktu: 0 - ±60 detik
- Kenaikan Suhu: 1°C/detik hingga 200°C
- Penjelasan:
- Sensor gas dipanaskan secara bertahap untuk mencapai suhu operasional.
- Kenaikan suhu yang terkendali memastikan sensor dapat merespons gas target dengan optimal.
Gelombang Pertama (1st Wave)
- Rentang Waktu: ±60 - ±70 detik
- Suhu Puncak: ±260°C
- Penjelasan:
- Pada fase ini, sensor mencapai suhu puncak pertama.
- Biasanya digunakan untuk memicu reaksi kimia tertentu pada material sensor, seperti aktivasi atau penyerapan gas target.
- Waktu di puncak sekitar 1,5 detik memastikan kestabilan dalam pendeteksian.
Gelombang Kedua (2nd Wave)
- Rentang Waktu: ±70 - ±80 detik
- Suhu Puncak Stabil: ±260°C
- Penjelasan:
- Gelombang kedua merupakan fase stabilitas sensor.
- Pada titik ini, sensor mempertahankan suhu optimal untuk memastikan keakuratan deteksi gas.
- Fase ini biasanya berlangsung selama 10 detik.
Pendinginan (Cooling Phase)
- Rentang Waktu: ±80 - ±140 detik
- Laju Pendinginan: 5°C/detik (awal) dan melambat menjadi 2°C/detik (akhir)
- Penjelasan:
- Sensor mengalami penurunan suhu bertahap.
- Pendinginan yang terkendali memastikan tidak terjadi kerusakan material sensitif di dalam sensor.
- Proses ini penting untuk menghindari efek termal berlebih pada komponen elektronik atau sensor itu sendiri.
MQ2 (Gas Sensor)
- Pasif/Aktif: Pasif (karena hanya mendeteksi perubahan tanpa menghasilkan energi sendiri).
- Analog/Digital: Analog (menghasilkan tegangan analog sebagai output).
- Fisika/Kimia/Biologi: Kimia (mengukur perubahan reaksi kimia dari gas tertentu).
- Thermal/Mekanis/Optik: Kimia (berbasis reaksi kimiawi).
MQ7 (Carbon Monoxide Sensor)
- Pasif/Aktif: Pasif.
- Analog/Digital: Analog.
- Fisika/Kimia/Biologi: Kimia (mendeteksi gas CO melalui reaksi kimia).
- Thermal/Mekanis/Optik: Kimia.
MQ2 (Gas Sensor)
- Pasif/Aktif: Pasif (karena hanya mendeteksi perubahan tanpa menghasilkan energi sendiri).
- Analog/Digital: Analog (menghasilkan tegangan analog sebagai output).
- Fisika/Kimia/Biologi: Kimia (mengukur perubahan reaksi kimia dari gas tertentu).
- Thermal/Mekanis/Optik: Kimia (berbasis reaksi kimiawi).
MQ7 (Carbon Monoxide Sensor)
- Pasif/Aktif: Pasif.
- Analog/Digital: Analog.
- Fisika/Kimia/Biologi: Kimia (mendeteksi gas CO melalui reaksi kimia).
- Thermal/Mekanis/Optik: Kimia.
SENSOR PIEZO
Aplikasi Sensor Piezo (Sensor Tekanan Udara)
Prinsip Kerja Sensor piezo:
- Berdasarkan efek piezoelektrik, di mana material tertentu (misalnya kuarsa atau keramik piezoelektrik) akan menghasilkan tegangan listrik ketika dikenakan tekanan mekanis.
- Semakin besar tekanan, semakin tinggi tegangan yang dihasilkan.
Grafik :
(a) Grafik Kiri: Output Tegangan terhadap Waktu untuk Berbagai Percepatan
- Sumbu X: Waktu (t) dalam detik.
- Sumbu Y: Tegangan puncak ke puncak (Vpp) dalam volt.
- Deskripsi:
- Setiap kurva merepresentasikan respons sensor untuk percepatan tertentu (0.25g hingga 2.0g).
- Amplitudo tegangan meningkat seiring bertambahnya percepatan.
- Hal ini menunjukkan bahwa sensor piezoelektrik menghasilkan tegangan lebih besar saat mengalami percepatan yang lebih tinggi.
- Periode gelombang tetap sama, menunjukkan bahwa frekuensi tidak berubah dengan percepatan, tetapi amplitudo meningkat secara signifikan.
- Setiap kurva merepresentasikan respons sensor untuk percepatan tertentu (0.25g hingga 2.0g).
- Amplitudo tegangan meningkat seiring bertambahnya percepatan.
- Hal ini menunjukkan bahwa sensor piezoelektrik menghasilkan tegangan lebih besar saat mengalami percepatan yang lebih tinggi.
- Periode gelombang tetap sama, menunjukkan bahwa frekuensi tidak berubah dengan percepatan, tetapi amplitudo meningkat secara signifikan.
(b) Grafik Kanan: Tegangan Output terhadap Percepatan untuk Berbagai Frekuensi
- Sumbu X: Percepatan (g).
- Sumbu Y: Tegangan output dalam volt.
- Keterangan Garis:
- Garis-garis merepresentasikan tegangan output pada frekuensi eksitasi yang berbeda (1479.8 Hz, 1475.0 Hz, 1450.0 Hz, dan 100.0 Hz).
- Pada frekuensi tinggi (misalnya, 1479.8 Hz), tegangan output lebih besar dibandingkan pada frekuensi rendah (misalnya, 100 Hz).
- Tegangan output meningkat secara linier dengan percepatan untuk frekuensi tertentu.
Piezosensor (Piezoelectric Sensor)
- Pasif/Aktif: Aktif (menghasilkan tegangan listrik saat menerima tekanan).
- Analog/Digital: Analog.
- Fisika/Kimia/Biologi: Fisika (mendeteksi perubahan fisik seperti tekanan).
- Thermal/Mekanis/Optik: Mekanis (merespons perubahan mekanis).
- Garis-garis merepresentasikan tegangan output pada frekuensi eksitasi yang berbeda (1479.8 Hz, 1475.0 Hz, 1450.0 Hz, dan 100.0 Hz).
- Pada frekuensi tinggi (misalnya, 1479.8 Hz), tegangan output lebih besar dibandingkan pada frekuensi rendah (misalnya, 100 Hz).
- Tegangan output meningkat secara linier dengan percepatan untuk frekuensi tertentu.
Piezosensor (Piezoelectric Sensor)
- Pasif/Aktif: Aktif (menghasilkan tegangan listrik saat menerima tekanan).
- Analog/Digital: Analog.
- Fisika/Kimia/Biologi: Fisika (mendeteksi perubahan fisik seperti tekanan).
- Thermal/Mekanis/Optik: Mekanis (merespons perubahan mekanis).
SENSOR LDR/PARTIKULAT
Aplikasi Sensor LDR (Cahaya)/Partikulat
Prinsip Kerja Sensor Ldr Sebagai sensor partikulat:
Sumber Cahaya dan LDR:
- Sebuah sumber cahaya (biasanya LED atau laser) diarahkan melalui udara yang mengandung partikulat.
- LDR diletakkan pada jalur cahaya tersebut untuk menerima intensitas cahaya.
Interaksi Cahaya dengan Partikulat:
- Partikel debu atau asap akan menghamburkan (scattering) atau menyerap sebagian cahaya yang melewatinya.
Respon LDR:
- Jika partikulat banyak, intensitas cahaya yang sampai ke LDR akan berkurang.
- Penurunan intensitas cahaya akan meningkatkan resistansi LDR.
Output LDR:
- Perubahan resistansi pada LDR akan diubah menjadi sinyal tegangan menggunakan rangkaian pembagi tegangan.
- Tegangan output dapat diukur menggunakan mikrokontroler seperti Arduino untuk dianalisis.
Grafik :
Figure 1: Power Dissipation Derating
- Sumbu X: Suhu lingkungan (Ambient temperature) dalam °C.
- Sumbu Y: Daya disipasi maksimum (dalam miliwatt, mW).
- Deskripsi:
- Grafik menunjukkan bahwa daya disipasi maksimum sensor menurun seiring dengan meningkatnya suhu.
- Pada suhu sekitar 25°C, daya disipasi maksimum adalah 300 mW.
- Ketika suhu mencapai 85°C, daya disipasi turun menjadi nol, menunjukkan bahwa LDR tidak boleh dioperasikan di atas suhu ini untuk menghindari kerusakan.
Figure 2: Spectral Response
- Sumbu X: Panjang gelombang cahaya (dalam nanometer, nm).
- Sumbu Y: Respons spektral sensor dalam satuan relatif (%).
- Deskripsi:
- Grafik menunjukkan rentang sensitivitas LDR terhadap panjang gelombang cahaya.
- Puncak respons LDR terjadi sekitar 550 nm, yang berada dalam spektrum cahaya hijau.
- Respons sensor berkurang di panjang gelombang lebih rendah (UV) atau lebih tinggi (infrared), menunjukkan bahwa sensor lebih efektif untuk mendeteksi cahaya tampak, khususnya hijau.
Figure 3: Resistance as a Function of Illumination
- Sumbu X: Tingkat iluminasi (lux), dalam skala logaritmik.
- Sumbu Y: Resistansi sensor (ohm), juga dalam skala logaritmik.
- Deskripsi:
- Grafik menunjukkan bahwa resistansi sensor berkurang secara signifikan dengan meningkatnya tingkat pencahayaan.
- Pada iluminasi rendah (sekitar 0.1 lux), resistansi sangat tinggi (ribuan ohm).
- Ketika pencahayaan meningkat hingga 100 lux, resistansi turun hingga nilai yang jauh lebih rendah.
- Ini mencerminkan sifat LDR yang sensitif terhadap cahaya: semakin terang, resistansinya semakin rendah.
Partikulat Sensor (Contoh: LDR untuk Cahaya)
- Pasif/Aktif: Pasif (mendeteksi intensitas cahaya).
- Analog/Digital: Analog (output berupa perubahan resistansi).
- Fisika/Kimia/Biologi: Fisika (berbasis fenomena fisik cahaya).
- Thermal/Mekanis/Optik: Optik (mengukur intensitas cahaya).
Aplikasi Rangkaian Sensor Oksigen
Prinsip Kerja Sensor oksigen:
Grafik :
Grafik Kiri Atas: Hubungan Rs/R0 terhadap Konsentrasi Gas
- Sumbu X: Konsentrasi gas dalam satuan ppm (part per million), ditampilkan dalam skala logaritmik.
- Sumbu Y: Rasio resistansi sensor (Rs) terhadap resistansi referensi (R0), juga dalam skala logaritmik.
- Keterangan:
- Garis-garis menunjukkan respons sensor terhadap berbagai jenis gas, seperti hidrogen (H₂), amonia (NH₃), udara (Air), dan toluena (Toluene).
- Secara umum, nilai Rs/R0 menurun seiring dengan meningkatnya konsentrasi gas.
- Ini menunjukkan sensitivitas sensor terhadap masing-masing gas. Gas tertentu menghasilkan perubahan resistansi yang lebih besar dibandingkan yang lain.
Grafik Kanan Atas: Hubungan Rs/R50 terhadap Temperatur
- Sumbu X: Temperatur (°C), dari -20°C hingga 50°C.
- Sumbu Y: Rasio Rs/R50, di mana R50 adalah resistansi sensor pada suhu referensi 50°C.
- Keterangan:
- Garis-garis menunjukkan perubahan rasio resistansi sensor terhadap temperatur pada berbagai konsentrasi gas (60 MHz, 30 MHz, dan 85 MHz).
- Sensor tampaknya memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap perubahan suhu tergantung pada kondisi atau frekuensi operasi.
- Secara umum, rasio Rs/R50 menurun dengan meningkatnya suhu, menunjukkan bahwa resistansi sensor menurun seiring kenaikan suhu.
Grafik Kiri Bawah: Hubungan antara Konsentrasi Gas (ppm) dan Tegangan Keluaran (VRL)
- Sumbu X: Konsentrasi gas dalam satuan ppm (parts per million).
- Sumbu Y: Tegangan keluaran (VRL) dalam volt (V).
- Deskripsi Grafik:
- Grafik menunjukkan peningkatan tegangan keluaran (VRL) seiring bertambahnya konsentrasi gas.
- Grafik memiliki pola kurva yang mendekati saturasi, artinya peningkatan konsentrasi gas akan menghasilkan peningkatan tegangan yang semakin lambat setelah melewati titik tertentu.
- Tegangan keluaran maksimal sekitar 3,5–4 V untuk resistansi beban RL sebesar 4,7 kΩ.
- Hal ini menunjukkan bahwa MQ135 memberikan respons linier hingga tingkat tertentu, setelah itu respons menjadi lebih stabil.
Grafik Kanan Bawah : Respon Sensor terhadap Waktu
- Sumbu X: Waktu dalam detik (s).
- Sumbu Y: Tegangan keluaran (VRL) dalam volt (V).
- Deskripsi Grafik:
- Grafik ini menunjukkan respons sensor terhadap perubahan konsentrasi gas dari waktu ke waktu.
- Pada awalnya (0–20 detik), tegangan rendah, menunjukkan lingkungan tanpa gas target.
- Antara 20–40 detik, tegangan naik dengan cepat dan mencapai nilai stabil, yang menunjukkan bahwa gas target telah terdeteksi dengan konsentrasi tertentu.
- Setelah 40 detik, gas target dihilangkan, dan tegangan mulai turun kembali menuju nilai awal, menunjukkan pemulihan sensor.
- Grafik ini menggambarkan sensitivitas dan waktu pemulihan sensor.
MQ135 (Air Quality Sensor)
- Pasif/Aktif: Pasif.
- Analog/Digital: Analog.
- Fisika/Kimia/Biologi: Kimia (mengukur kandungan gas berdasarkan reaksi kimia).
- Thermal/Mekanis/Optik: Kimia.
- Download HTML Klik Disini
- Download Rangkaian Klik disini
- Download Video Klik Disini
- Download Library klik disini
- Datasheet sensor Proximity Klik Disini
- Datasheet Baterai Klik Disini
- Datasheet relay Klik disini
- Datasheet Voltmeter Klik Disini
- Datasheet Motor DC Klik Disini
- Datasheet Transistor Klik Disini
- Datasheet Dioda Klik Disini
- Datasheet OP AMP 124 Klik Disini
- Datasheet Resistor Klik Disini
Datasheet sensor gas Klik Disini
Datasheet Sensor Suhu Klik Disini
Datasheet Sensor Oksigen Klik Disini
Datasheet Piezo Sensor Klik Disini
Datasheet Ldr Klik Disini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar